English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2010

Bukit Bintang Vs Bukit Jomlo

SELAMAT BERMALAM MINGGU. 07:00 malem.
Gua lagi diem di kamar. Setelah menyadari bahwa keadaan di luar rumah tidak kondusif untuk gua berdiam-diam lama. Bagaimana tidak, lalu lalang motor, orang berjalan, orang mondar-mandir, orang teriak-teriak, orang lari-lari sambil lempar jumrah (loHHH).
Sekilas gak ada masalah kan. Tapi setelah menyadari kalau banyak orang yang mengendarai motor itu berpasang-pasangan, orang yang jalan depan rumah di pinggirnya menemani seseorang, orang lalu lalang sambil menggandeng cewek atau cowok, dan bahkan babeh-babeh yang sering maen gapleh di POSYANDU RW pun menggandeng pasangannya, ya istrinya ,
gua mulai sadar,
“Mending mengurung diri di kamar, Diem depan komputer, Buat dunia sendiri, dan mulailah garuk-garuk tanah guna membuat liang lahat.”
Begitulah, MALEM MINGGU bagaikan malem jumat bagi seorang jomblo macem AING.
gua masih di dalam kamar.
Setengah jam terlewati… “Setan,” Layar monitor kosong. Setengah jam lebih satu menit terlewati… “Geblek!” Replika Kertas dalam program Microsoft Word masih putih bersih. Setengah jam lebih setengah jam… “Anjissss ini gak bisa…” Gua gak bisa nulis apapun. Entah. Jadinya gak tenang aja. Gua putuskan untuk mengirim sms ke seseorang…
“DIMANA CENG??”
-:-

“Abis ini kita kita ke Bukit bintang Yuk…”
Hemhh… indah sekali kata-katanya. Sayang dia orang yang sama punya burung. Si Aceng duduk di sebelah sambil mengocek sedotan di dalam gelas berisi air susu itu.
“Bukit Bintang??”
“Iyah. Bukit bIntang.” Aceng kembali bersuara
"Bukit Bintang??”
“Heu-euh Bukit Bintang. Ente gak tahu!!”
Bukit Bintang.
Selama gua lahir, tinggal, dan besar (titit) baru gua sekali ini mendengar satu kata itu, BUKIT BINTANG.
Dalam frame berfikir gua dari dulu kala, sesuatu, baik itu tempat atau apapun yang punya judul bintang pastilah bawaannya itu keren. Ya misalnya,

Bintang Kejora.
Taman bintang
Kolam Bintang
Bintang Kecil
Bintang nu ngagantung di langit Batu Hiu
Antara Aku, kamu, bintang dan nenekku. Atau
Boker Di Bintang sekarang Juga!

Tapi yang namanya bukit bintang. Gua gak MUDENG? Ada selintas bayangannya kita diem di atas lahan luas yang diatas beratapkan langit. Pandangan lurus keatas, terhampar banyak bintang di sana-sini, seperti memandang roti dengan butiran kismis diatasnya. Indah, Lezat, bikin iler tak terkendali. Mungkin itu ya namanya Bukit Bintang.
“Hayuk akhhh…” Ajak Aceng.
akhirnya, kita beranjak dari tempat itu. Di daerah sekitaran Gegerkalong. Yang gua liat semakin banyak pengunjung di tempat kita minum susu murni dengan berbagai rasa tersebut. Pas liat di ujung sebelah ada pasangan yang mesra-mesranya, gua harap gua bisa jadi Pesulap macem Limbad atau Dadang Corbuzier. Kenapa? Karena gua bisa nyodokin burung hantu milik Limbad ke mulut mereka dengan manis. Atau gua bisa sulap air susu rasa strawberry yang lagi diminum berubah menjadi rasa Aspal hitam….
“Hekkk Hekkkk….” Setelah si cowok meminum air itu.
“Sayang Kenaaapppaaaa?”
“Ini hekkkk hekkk…”
“Kenapaa… Toloonnnggg…”
“HekkkkHekkkk…" *TIIIIIIITTTTTTTT* KOID “TIDAAAAAAKKKKKKK!!”
Wuahahahhaaa… untungnya itu cuman dalam imajinasi liar gua. Pshyco Imaginery Solitairness.

Motor si Aceng masih berjalan melewati jalanan Bandung yang tak pernah sepi apalagi di malem minggu. Gua sebagai pengendara di depan, berusaha untuk tidak menabrakan diri ke pohon setelah melihat semakin banyak muda-mudi berboncengan.
Akhirnya kita sampe ke daerah dago atas. Disini hawa menabrakan diri ke pohon semakin menjadi-jadi. Gak cuman motor doang. Banyak mobil yang berhenti dan gua liat di dalamnya pasangan yang lagi maen beklen. Hebat! Maen beklen di Mobil. Sangat hebat. Gua sumpahin tuh mobil meledak tiba-tiba…
Tenangkan diri…..
Tarik nafas…
Huhhhhh….

“Hihihiiii…” Gua tiba-tiba tertawa pemerkosa ketika melihat satu motor menyalip.
“Kenapa?” sebagai orang waras, Aceng pasti bertanya.
“Enggak. lucu ajah.” Jadi lucu ketika gua melihat cewek yang diboncengnya.
Terlihat beberapa analisis aneh:
Cowok itu gak sayang ceweknya. Kenapa? Karena cowok yang mengendarai motor memakai jaket cukup tebel, kulit brow, angin gak akan nembus plus celana jeans dan sepatu kets. Kontras dengan keadaan ceweknya yang cuman pake kaos tipis, celana jeans pendek sepaha (atau dengan istilah HOT PANT; CELANA PANAS) maka angin bisa lalu lalang menerpa tubuhnya, dan sendal jepit khas cewek. Gua prediksikan pulang ke rumah tuh cewek muntah-muntah masuk angin dan langsung di kerok sama emaknya:
“Euuuhhggkkk..” Suara sendawa
“Emak bilang juga apeee…. Pake jeket, Pake jeket. Anak setan!!”
Suhu memang cukup dingin saat itu. Kesimpulannya kuat, cowok itu gak sayang sama ceweknya. Kalo gua sih gak bisa gituh, mending gua yang kedinginan (cieeehhhh Pahlawan kolor ijo neehh ceritanya).

Cewek itu cewek egois yang gak mau dibilangin sama cowoknya. Cowoknya bisa aja udah ngomong, “Sayang pake jaket aku. Ntar dingin lohhh…” Ceweknya menjawab, “Kamu anjing yang pake jeket. Aing mah gak dingin SETANNN.” Memang cewek jaman sekarang ngomongnya udah macem Batak calo di terminal.
Cowok dan cewek itu sama-sama bego. Ceweknya gak mau dibilangin. Si Cowok juga gak sadar kalo ceweknya kedinginan.
Cowok dan ceweknya sama-sama calon neraka. Dalam hal ini gak ada alasan. Sentimen ajah ngeliat mereka berdua saling melengkapi. Yang satu pake jeket, yang satu enggak. Indah sekali. Saling melengkapi. GuobLOKKK!!!

“Kenapa kamu heran??” Aceng bertanya kembali, membuat pikiran masuk konsen kembali ke jalanan Dago.
“Enggak.” Lalu gua liat setelan si Aceng yang cuman pake celana pendek, kaos oblong dan sendal jepit. Tadinya mau nawarin jaket, tapi… Ahhhh lupakan. Gua bukan Saeful Jamil (katanya saeful Jamil seorang HOMO).
Akhirnya kita masuk ke daerah pemukiman elite, di daerah Dago paling atas. Indah. Dari titik sini, kita cuman bisa liat lampu warna-warni kelap-kelip dari rumah-rumah di Bandung sana, memaksa menyimpan mata lama-lama.
“Ini namanya Bukit Bintang?” Gua nanya di belakang. Motor melaju perlahan.
“emmhhh…” “emhhh???”
Maksud loee dengan Ehmm...
"Gak tahu juga sihh… aku juga belum pernah, cuman pernah denger ajah.”
“Hahhhh?? Jadi kenapa MANEH kesini!!”
“Gak tahu. Dulu pernah sama si A sama si B” dia menyebutkan mantannya.
Goblok! Jadi loe kira kita mau pacaran. Dan setelah gua liat-liat ke sebelah kanan dan kiri. Bussett. Banyak motor terparkirkan. Gua semakin memicingkan mata ke sudut-sudut gelap hamparan tanah luas itu. Busseett… Maen beklen neehhh… “Anjigngssss Keluar ahhh…” Gua shock ke Aceng. Kalo dia cewek, gua bisa aja gabung maen beklen. Sayang gua lebih milih maen jorokin-aceng-ke-jurang saat ini.
‘Hayuk-hayuk.” Aceng menyetujui karena kayaknya melihat sorot mata nakal dari gua.
Motor kembali melaju. Masuk kembali ke daerah pemukiman yang semakin sepi sajah. Banyak tanjakan yang telah kita lewati. Semakin sedikit orang dan motor lalu lalang. Gua semakin yakin ini deket dengan Bukit Bintang.
Karena nyaris merasa tersesat, gua nanya ke tukang satpam. “Emmm Maaf Pak,”Gua tersenyum. “Kalo Bukit Bintang itu dimana yahhh??”
“Lurus terus nanti ada Gapura lalu belok kanan.” Tanpa menoleh.
Kalau tuh satpam gak punya kumis baplang kayak babeh gua. Gua makan dia idup-idup.
Akhirnya secara ajaib kita tiba di satu tempat. Banyak orang disana, lebih banyak orang dari pada tadi gua liat di jalan. Lebih banyak pasangan yang maen beklen ketiban tadi gua liat di tempat sebelumnya. Lebih banyak kesenangan terpancar dari raut wajah mereka. Lebih banyak lampu yang gemerlap di bawah sanah. Lebih banyak orang yang sedang beraktivitas. Namun sayang, Lebih memuakan bagi gua. Gua pikir tuh tempat asri, nyaman, yang terpenting sepi. Sepi. YA Sepi. Cukup buat gua memaknai kesendirian ini. Kesendirian itu menjadi ramai terobati ketika gua ditemani oleh alam.
Selalu aku merasa tenang ketika alam membuai dengan tangannya yang sedingin angin
Selalu aku merasa tenang ketika mata memandang panorama yang diciptakan oleh Sang Pencipta
Selalu aku merasa tenang ketika dekapan langit menyelimuti tubuh bogel ini.
Selalu aku merasa tenang ketika bintang-bintang bercanda, genit mengedipkan sebelah matanya. Selalu aku merasa tenang ketika pohon melambai dan berkata, “Godain kita donng”

“Hahhh… Balik ajak Yuk.” Ajak Gua.
Aceng menyetujui, memutar motornya….
Di tengah-tengah perjalanan pulang… gua mulai berkhayal…
Gua membayangkan suatu saat nanti ada satu bukit Di Bandung, khusus buat para JOMBLO. Namanya BUKIT JOMBLO.
Syarat utama bukit ini adalah semua orang yang masuk haruslah orang JOMBLO.
Jadi ketika melewati pintu utama Bukit Jomblo, macem alat pintu Full Body Checked di Bandara… “Tiiiitttttt…”
“Anda Punya pasangan. Tidak Boleh…”
“Tiiittttttt…”
“Anda punya pasangan…”
“tapi saya baru diputusin kemaren…”
“Pacar anda masih sayang. Tuh liat….” Petugas Bukit Jomblo menunjuk papan neon hasil pemeriksaan:
MASIH ADA HARAPAN PUNYA PACAR. BESOK JUGA BALIKAN.
“Canggih nih alat.”
“Keluar!!”
“Tiiiitttttt…” “Loh kenapa?? Saya udah putus dua bulan yang lalu.” “Kamu masih ada hati ke mantan kamu. Gak bisa!!! Harus JOMBLO SEJATI. MAKIN GAK ADA HATI MAKIN SEJATI!!!”
“TOLONG PAK! SAYA KEPENGEN MASUK BUKIT JOMBLO!!”
“GAK BISAAA!!!! PAK SONNY YANG BUAT ATURAN!!!” Beberapa penjaga menyeret dia…
“TOLOOONNG PAAKK!!”

Di bukit khayalan ini juga terdapat berbagai macam tempat dan permainan. Mau cowok ataupun cewek mau usia tua maupun muda pasti cocok dengan tempat ini. Ada Mall buat cewek, Ada games-games buat cewek, Ada pesta ulang tahun jam 12 malem karena yang dateng kesitu akan di undi namanya dan yang keluar adalah yang ulang tahun hari itu, ada ruangan khusus buat cowok bermain PS, ada ruangan bioskop dengan film-film terbaru, ada komputer 100 biji plus internet connection buat yang suka ngenet, ada skate park, lapang basket, lapang bola, Tempat RAPAT (??), REPLIKA GEDUNG MPR-DPR, perpustakaan, laboratorium, teropong bintang, Para Artis Manggung, gunung tiruan, danau kecil, kolam renang air hangat, supermarket, ada ATM buat yang suka maling, tersedia beberapa orang bodoh yang bisa dijailin, ada photo-photo mantan dengan pacarnya sekarang yang bisa dijadiin sasaran tembak, pokoknya semua lengkap. Semua jomblo dengan berbagai hobi bisa melampiaskan kepenatannya malam minggu karena tidak ada teman. Bahkan bisa juga jadi ajang mencari jodoh disini. Tetapi kalau sudah punya pacar, minggu depannya gak bisa masuk sini, akhirnya mereka pasti putus kembali. BAGUSS.
Wuaahahhhaaaaahhhaaaaa….
dan nantinya semua orang Jomblo kesepian di seluruh Indonesia pasti akan pernah mengingat dan mencari satu tempat yang buka-nya cuman hari sabtu malem minggu itu. Namanya BUKIT JOMBLO!!
Dan ketika kita jomblo pas hari sabtu gak usah bimbang dan resah, banyak teman seperjuangan di sana… di BUKIT JOMBLO!!!
Dan ketika kesendirian melanda…. INGATLAH SATU HAL… ADA BUKIT JOMBLO DAN segala macam fasilitasnya yang menghiburrrrrrr…..
read more...

Cinderella Mencari Sepatu Kaca

Cinderella memang bukanlah gadis cantik dan berkulit putih seperti dalam dongeng “Cinderella”. Namun Cinderella adalah seorang gadis manis yang berkulit kuning langsat yang tinggal disebuah daerah terpencil. Hidupnyapun juga tak menyedihkan seperti dalam dongeng “Cinderella”. Cinderella adalah gadis modern yang bergaya bak artis atau penyanyi dangdut masa kini. Suatu hari Cinderella menemukan sesosok pangeran impiannya. Seperti dalam kisah “Cinderella” yang pernah dibacanya, iapun meniru gaya Cinderella. Dengan sebuah sepatu kaca yang dimilikinya Cinderella mampu menemukan pangerannya dan berhasil menikah dengan pangeran impiannya. Alhasil Ella alias Cinderella inipun meniru gaya “Cinderella” dalam dongeng tersebut. Namun kehidupan Ella yang serba modern ini tak banyak memberikan hasil yang nyata. Ia tak mampu mendatangkan seorang peri yang mampu memberikannya sepatu kaca.Akhirnya dengan wajah yang bermuram durja Ella duduk sendirian disebuah taman. Sedang asyiknya melamun plus berfikir tiba-tiba muncullah seorang jin ifrid yang mirip dengan pangeran impiannya. Jin itu membisikkan sesuatu pada Ella, hingga akhirnya Ella tahu apa yang harus dilakukannya agar ia dapat menemukan pangeran impiannya. Akhirnya dengan tekad yang bulat sebulat bulatnya Ella pun berniat untuk mencari sepatu kaca agar ia dapat menemukan pangerannya. Namun sayang niat Ella tak kesampaian, meskipun sudah sampai diujung benua bahkan sampai keujung kutub ia tak menemukan sepatu kaca itu. Akhirnya dengan wajah yang bermuram durja ia kembali ke kampung halamannya dan tak berminat lagi untuk mengejar pangeran impiannya. Namun niat itu diurungkannya tatkala ia melihat sebuah toko sepatu yang menjual beraneka ragam bentuk sepatu. Ellapun mencoba memasuki toko tersebut dan segera mencari sepatu kaca yang seperti dipakai tokoh “Cinderella”. Setelah mencari-cari sepatu yang diinginkannya akhirnya Ella menemukannya juga. Dengan uang recehan + seribuan yang jumlahnya begitu banyak Ellapun segera membayar sepatu kaca tersebut dan segera pulang kerumahnya.Dengan memakai sepatu kaca yang baru saja dibelinya, Ellapun bak biduan dari Mesir kalau dari Indo mirip Inul Daratista. Akhirnya Ellapun berniat kembali untuk mencari pangeran impiannya. Setelah berkeliling kampung untuk menemui pangeran impiannya, ia tak juga menemukan kekasih pujaan hatinya itu hingga akhirnya ia memilih untuk menunggu dan menunggu sampai pangerannya datang. Setelah sekian lama menunggu ternyata pangeran impiannya tak kunjung muncul. Akhirnya dengan kejengkelannya iapun pulang. Saat akan pulang tiba-tiba muncullah orang ½ waras alias berotak miring bin gila mengganggu Ella. Tanpa sadar Ellapun melempari orang gila itu dengan sepatu kaca yang baru saja dibelinya. Setelah kepergian orang gila itu Ella segera pulang kerumahnya.Sesampainya dirumah, Ella terkejut bukan main, karna dirumahnya seorang pemuda ganteng + cakep nan imut telah menunggu dirinya. Ella yang seumur-umur baru melihat cowok paling cuakep didunia itu langsung dag dig dug duer …. Bak kesambar petir di siang hari Ella pun langsung kesetrum saat menatap mata pemuda itu. Ella yang tak ingin kehilangan moment berharga ini segera mendekati orang itu. Setelah mendekat dan bertatapan langsung dengan orang itu, Ella tahu bahwa orang itu adalah pangeran impiannya yang sering diimpi-impikannya. Bagai cacing kepanasan ia menjadi serba salah alias salting. Saat salting itulah Ella tersadar kalau sepatu kacanya telah hilang. Karna tak ingin imagenya sebagai Cinderella hilang akhirnya Ella lari terbirit-birit meninggalkan pangeran impiannya untuk mencari sepatu kacanya yang tadi dibuat untuk mengusir orang gila. Orang yang tadi berada dirumah Ella segera berlari mengejar langkah Ella yang kaya` kuda lumping. Ella yang kebingungan mencari sepatu kacanya menjadi resah dan gelisah. Kalau-kalau pangeran impiannya tak mau menjadi pendamping hidupnya. Orang yang menjadi pangeran impian Ella inipun yang melihat kebingungan Ella segera menanyakan apa yang dicari Ella.“O … alahh ini bukan sepatu kacanya ?” kata orang itu sambil menjinjing sepasang sepatu kaca milik Ella, yang rupa-rupanya ia bernama Ryan Denizco. Ryan Denizco adalah tetangga sebelah desa Ella yang sedang mencari jodoh. Akhirnya terjadilah kisah percintaan diantara Ella dan Ryan. Sebelum kisah percintaan itu dimulai Ella dan Ryan saling berkenalan dan bercakap-cakap agar lebih kenal dan dekat seperti lem dan perangko.“O … jadi kamu mencari sepatu kaca ini buat nemuin pangeran impianmu tho ??”“iya, biar mirip kaya` dongeng “Cinderella” githu loch. Lha terus kamu kog tahu rumahku ?”“iya, soalnya kemarin aku mimpi jodohku udagh deket, ia bernama Cinderella Azhahra. Saat aku melewati tempat ini kulihat sepasang sepatu kaca itu tergeletak disini. Lalu kupungut sepatu itu dan segera mencari orang yang bernama Cinderella Azhahra itu. Kali aja dia yang mempunyai sepatu kaca itu” tutur Ryan. Kisah Ryan Denizco yang panjang lebar kaya` rel kereta api itu membuat Ella alias Cinderella Azhahra inipun tertidur. Ryan yang melihat Ella tertidur segera membangunkannya. Berbagai macam cara sudah dilakukan Ryan untuk membangunkan Ella. Namun karena sulit dibangunkan akhirnya Ryan memberikan nafas buatan untuk Ella. Baru satu tiupan Ellapun terbangun, mungkin karna bau mulut Ryan yang amat sangat bau karena mungkin habis makan jengkol. Setelah Ella bangun, akhirnya mereka pulang kerumah Ella untuk meminang + meminta doa restu pada orang tua Ella. Akhirnya seperti dalam dongeng “Cinderella” Ella dan Ryanpun hidup berbahagia menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.
read more...

Asal Mula Kecoa

Jaman dahulu kala, di sebuah desa yang di beri nama desa suka mandi kembang, hiduplah seorang gadis bernama Era, dia hidup sebatang kara kaya toge. orang tuanya sudah lama meninggalkan dia, ibunya meninggal karena penyakit latah yang sangat akut, sedangkan ayahnya meninggal karena flu anjing. Era hidup di sebuah rumah yang dia beri nama gubuk derita. suatu hari Era melihat pengumuman di sebuah papan yang bertuliskan: "PENGUMUMAN PENGUMUMAN SIAPA YANG PUNYA ANAK BILANG AKU AKU YANG SEDANG MALU, SAMA TEMAN-TEMAN KARNA CUMA DIRIKU YANG TAK LAKU-LAKU.." Sesaat Era terdiam, dan kebingungan, dengan wajah yang seperti ini (-.-) Era kembali membaca tulisan di bawahnya: "OKE, BERHUBUNG SANG PANGERAN BELUM PUNYA ISTRI SAMPAI SEKARANG, SEDANGKAN RAJA DAN RATU TAKUT KALAU PANGERAN MENJADI BUJANG LAPUK. MAKA KEPADA SELURUH GADIS DI DESA INI, YANG MERASA DIRINYA SEORANG GADIS TENTUNYA. DI HARPKAN KEHADIRANNYA DI ISTANA MALAM INI PUKUL 18.00 WIB sesudah solat magrib, dan sehabis berbuka puasa. demikian pengumuman hari ini. lebih kurangnya saya mohon maaf, wabilahitofikwalhidayah wasalamualaikumwarohmatulahiwabarokatu"
Era langsung berlari pulang, dan mengobrak-abrik isi lemarinya, tapi dia tidak menemukan baju satu pun. ya jelas aja gak ketemu wong yang di bukanya lemari es! raut wajah kecewa terlihat di wajah Era, padahal ia ingin sekali hadir di pesta itu. tiba-tiba muncul cahaya yang berubah menjadi sosok wanita tua yang gendut, lengkap dengan sayap, tongkat sihir dan kaca spionnya, eh, salah, kacamatanya. "Wahai, gadis cantik, mengapa kau menangis?" kata sang ibu teri. "Ibu teri, aku sedih, aku ingin ikut di pesta pangeran nanti malam, tapi aku tak punya baju. hikz. hikz" Era menangis tersedu-sedu, samapi ingusnya meler. " kasihan sekali kau, baiklah kalau begitu, aku akan mengubah mu menjadi gadis yang sangat canti untuk pesta nanti malam, tapi kau hanya dapat menikmati itu semua sampai jam 12 malam. karena bila lewat dari jam segitu.... bagaimana eike mau mangkaal booo, bajunya aja elu pake??" ucap ibu teri, sambil menirukan gaya khasnya emon di catatan si boy. "idih. baiklah kalau begitu. asalkan aku bisa bertemu dengan pangeran" Era mengusap air matanya dan tersenyum kecil. ibu teri membacakan sebuah mantra sambil menunjukan tongkat sihirnya pada Era "Hompimpa alaihum gambreng, nek ijah pake baju rombeng, unyil kucing, unyil kucing!" kta ibu teri. 'mantra yang aneh' ucap era dalam hati. tidak lama Era berubah menjadi gadis cantik dengan gaun merahnya, tak lupa sepatu kuda yang menghias kakinya. "Terimakasih banyak ibu teri, terima kasih.." Era memeluk ibu teri. "Sama2 anak ku. tapi ingit, sebelum jam 12, kau harus mengantarkan barang2 yg ku pinjamkan ini, di perempatan desa sebrang. oke?!" "baiklah ibu teri" "kalau begitu aku pulang dulu" ibu teri menjentikan jarinya, tapi dia tidak menghilang, ia menjentikan lagi jarinya, ttp saja dia tidak menghilang. langsung saja ibu teri dengan wajah polosnya, mengambil tindakan, ia membuka pintu, berdiri di pinggir jlan, sambil menunjuk, saat angkot lewat, ia langsung naik, dan melambaikan tangan pada era.

saat di pesta dansa, Era adalah gadis tercantik, semua wanita memandang iri padanya, rambut era yang panjang lurus dan hitam tergerai indah. "rambut kamu bagus ya?" kata seorang tamu pada Era. "Ah, cuma pake shampo kok." ucap Era dan meninggalkan tamu itu dengan wajahnya yang bengong.
"HADIRIN SEKALIAN, KITA SAMBUT PANGERAN LUPIN!" munculah sang pangeran tampan itu, dia langsung berjalan ke arah Era dan mengajaknya berdansa.
tiba saat tengah malam, namun Era masih saja terus berdansa. sedangkan Ibu teri menunggunya di perempatan bersama teman2 lekongnya. Era terus berdansa sampai pagi (udah kaya dangdutan aja, gak cape apa ya) dia terkejut. dia sadar dia lupa mngembalikan bajunya pada ibu Teri. dia berlari keluar istana dan masuk ke gubuk deritanya. dia sembunyi kolong tempat tidurnya. (padahal tempat tidur aja gak punya) tiba2 mncul ibu teri dengan raut muka yang sangat marah. "wahai gadis tidak tau diri! mengapa kau tidak menepati janjimu?!" ucap Ibu teri. " maafkan aku, aku lupa dengan janji ku." "gara kamu! tadi malam aku tidak dapat langganan! terkutuk kau!" ibu teri menunjukan tongkat sihirnya. sesaat Era berubah menjadi hewan kecil berwarna coklat, lengkap dengan 2 antena di kepalanya (mungkin itu parabola atau indovision). lalu ibu teri meninggalkan Hewan itu sendiri di gubuk derita yang sangat kumuh itu, Ibu teri pergi dengan angkot lagi.
TAMAT
read more...

Sabtu, 09 Januari 2010

Sakit kanker ato Aids??

Seorang penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi hanya sekitar 2 minggu lagi. Mendengar khabar tak mengenakkan hati, ia memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan.

Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : “Maaf teman-teman, Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan Kalian, AIDS telah merongrong tubuh Saya.”

Anaknya dengan heran bertanya : “Ayah, mengapa Ayah berbohong atas penyebab kematian Ayah?”

Ayahnya menjawab : “Sssst, aku tak mau salah seorang dari mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak !”
read more...

Salah Nurunin Resleting

Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”
read more...